Gedung Rehab Medik RSCM

Tentang ruangan ini

Ortotik dalam Okupasi Terapi (OT) adalah penggunaan, pembuatan, dan pemasangan alat bantu eksternal (disebut ortosis atau splint) yang dirancang khusus untuk menyangga, meluruskan, mencegah kecacatan, serta meningkatkan fungsi fungsional tubuh pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Dalam okupasi terapi, ortotik bukan sekadar alat medis pasif. Fokus utamanya adalah bagaimana alat tersebut dapat membantu pasien kembali mandiri saat makan, menulis, berpakaian, bekerja, atau beraktivitas.
1. Tujuan Utama Ortotik dalam Okupasi Terapi
Terapis okupasi merancang ortosis dengan beberapa tujuan spesifik:
• Proteksi dan Imobilisasi: Melindungi jaringan yang cedera, meradang, atau baru selesai dioperasi (misalnya pascaoperasi tendon) agar dapat sembuh dengan benar.
• Peningkatan Fungsi: Membantu memosisikan sendi (terutama tangan dan jari) pada posisi optimal agar pasien bisa menggenggam, menjepit, atau memegang benda.
• Pencegahan Deformitas: Mencegah pemendekan otot atau sendi kaku (kontraktur) pada pasien dengan kondisi neurologis seperti stroke atau cerebral palsy.
• Manajemen Nyeri: Mengurangi beban pada sendi yang meradang, misalnya pada penderita rheumatoid arthritis atau carpal tunnel syndrome.
2. Jenis-Jenis Ortosis Berdasarkan Sifatnya
Terapis okupasi umumnya membagi ortosis menjadi dua kategori besar berdasarkan fungsinya:
Jenis Ortosis Karakteristik Contoh Penggunaan
Ortosis Statis • Tidak memiliki komponen yang bergerak.
• Mengunci sendi dalam satu posisi tetap.
• Fokus pada peristirahatan dan perlindungan jaringan. • Resting hand splint untuk pasien stroke.
• Wrist cock-up splint untuk sindrom terowongan karpal (carpal tunnel syndrome).
Ortosis Dinamis / Mobilisasi • Memiliki komponen bergerak (seperti karet band, pegas, atau engsel).
• Memberikan tarikan lembut yang konstan.
• Fokus pada pemulihan gerakan sendi atau menggantikan otot yang lemah. • Dynamic radial nerve splint untuk kondisi wrist drop (tangan terkulai akibat cedera saraf).
• Alat bantu regangan pascaoperasi jaringan ikat tangan.
3. Kondisi Medis yang Membutuhkan Ortotik OT
Ortotik dalam okupasi terapi sangat sering diterapkan pada kasus-kasus berikut:
1. Gangguan Neurologis (Saraf): Pasien pascastroke, cedera otak, atau cedera sumsum tulang belakang yang mengalami spastisitas (kekakuan otot) atau kelumpuhan pada area tangan.
2. Cedera Muskuloskeletal: Patah tulang tangan, cedera tendon, cedera ligamen, atau setelah menjalani operasi rekonstruksi tangan.
3. Penyakit Kronis & Degeneratif: Osteoarthritis atau Rheumatoid Arthritis yang menyerang sendi-sendi kecil di jari tangan.
4. Cedera Saraf Tepi: Kondisi seperti carpal tunnel syndrome atau de quervain's tenosynovitis (radang tendon jempol).
4. Peran Terapis Okupasi dalam Proses Ortotik
Seorang terapis okupasi memiliki keahlian khusus dalam menganalisis aktivitas (occupational performance). Proses yang mereka lakukan meliputi:
• Asesmen Kustomisasi: Mengukur secara presisi anatomi pasien dan memilih bahan (biasanya thermoplastic yang dilelehkan dengan air panas) agar pas dengan lekuk tubuh pasien tanpa menimbulkan luka tekan.
• Edukasi Pemakaian: Melatih pasien dan keluarga mengenai jadwal pemakaian (kapan harus dipakai dan kapan harus dilepas) serta cara merawat kebersihan alat bantu.
• Integrasi Aktivitas: Melatih pasien menggunakan alat tersebut langsung pada aktivitas nyata, seperti latihan memegang sendok, membuka pintu, atau mengetik keyboard komputer.
Jika Anda sedang mempertimbangkan atau disarankan menggunakan alat bantu ortotik, apakah alat ini ditujukan untuk anak-anak atau dewasa, dan ditujukan untuk menangani kondisi medis tertentu (seperti pascastroke atau cedera tangan)? Berikan detailnya agar saya dapat membagikan informasi latihan adaptif yang sesuai.